Torajachannel.com, Makale—Tenun Tana Toraja akan naik panggung dalam balutan fesyen modern. Sebanyak 34 peserta dari berbagai daerah di Indonesia siap memamerkan kreativitas mereka dalam Lomba Rancang Busana Tenun Tana Toraja yang menjadi bagian dari event Pesona Tenun dan Budaya Tana Toraja, 29 Agustus 2026.

Peserta tidak hanya datang dari Tana Toraja dan daerah sekitarnya. Sejumlah perancang busana dari berbagai wilayah di Indonesia turut ambil bagian dalam ajang tersebut.
Kehadiran desainer dari luar daerah menjadi sinyal bahwa Tenun Tana Toraja mulai menembus ruang yang lebih luas. Kain tradisional yang selama ini lekat dengan identitas budaya Toraja itu akan ditantang untuk tampil dalam bentuk busana yang modern tanpa kehilangan karakter aslinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tana Toraja, Adelheid Sosang, menyambut positif keikutsertaan peserta dari berbagai daerah. Menurut dia, lomba tersebut tidak semata-mata mengejar kemenangan, tetapi juga menjadi panggung untuk memperkenalkan Tenun Tana Toraja sebagai bagian dari kekayaan wastra Indonesia.
“Kami tentu menyambut baik keikutsertaan peserta dari luar daerah. Ini bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Tenun Tana Toraja sebagai wastra yang memiliki nilai budaya dan potensi untuk dikembangkan dalam industri fesyen,” ujar Adelheid, Kamis (20/8/2026).
Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, event Pesona Tenun dan Budaya Tana Toraja secara khusus memberi ruang lebih besar bagi pengembangan Tenun Tana Toraja melalui desain busana.
Panitia menyiapkan total hadiah Rp100 juta bagi peserta yang mampu menghasilkan rancangan terbaik dan memenuhi seluruh ketentuan lomba.
Adelheid berharap ajang tersebut tidak berhenti sebagai kompetisi tahunan. Pemerintah Kabupaten Tana Toraja ingin lomba ini menjadi ruang promosi dan sekaligus memacu para desainer untuk menggali potensi budaya Toraja melalui industri fesyen.
“Kami ingin Tenun Tana Toraja tidak hanya dikenal sebagai kain tradisional, tetapi juga mampu tampil dalam karya busana yang modern, elegan dan tetap membawa identitas budaya Toraja,” katanya.
Dalam ketentuan lomba, peserta diwajibkan menghadirkan busana dengan konsep formal. Rancangan harus terlihat rapi, tertutup, sopan, serta memberikan kesan elegan ketika dikenakan.
Tenun Tana Toraja juga tidak boleh sekadar menjadi pemanis. Material tersebut wajib menjadi bahan utama dengan komposisi sekurang-kurangnya 70 persen dari keseluruhan busana.
Adapun 30 persen material lainnya dapat dikreasikan secara bebas oleh peserta sesuai konsep dan karakter desain masing-masing.
Tak hanya adu kreativitas para desainer, event tersebut juga akan diramaikan Lomba Menenun Selempang atau Syalyang melibatkan ratusan penenun dari 19 kecamatan di Tana Toraja.
Rangkaian kegiatan itu menjadi upaya pemerintah daerah mempertemukan tradisi, kreativitas dan industri fesyen dalam satu panggung. Tenun Tana Toraja tidak lagi sekadar dipandang sebagai kain warisan leluhur, tetapi didorong menjadi produk budaya yang mampu mengikuti perkembangan zaman.
Melalui event tersebut, Pemkab Tana Toraja berharap karya para desainer dapat memperluas penggunaan Tenun Tana Toraja sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu kekayaan wastra Indonesia yang memiliki nilai budaya sekaligus peluang ekonomi.
Penulis : adi
Editor : Redaksi














