Torajachannel.com, Rantepao—Lebih dari tiga tahun setelah Stoner Sammen menghilang, penanganan kasus remaja asal Sa’dan Malimbong, Kabupaten Toraja Utara, itu kembali dipersoalkan publik.
Perkara yang sejak awal menyita perhatian masyarakat dinilai berjalan di tempat tanpa perkembangan yang jelas.
Dalam beberapa hari terakhir, nama Stoner kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Warga mengunggah foto remaja yang saat itu berusia 16 tahun tersebut disertai ajakan agar aparat penegak hukum membuka kembali penyelidikan dan mengungkap secara tuntas apa yang sebenarnya terjadi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Stoner dilaporkan hilang pada 31 Maret 2023. Ia diduga melompat ke Sungai Sa’dan di kawasan Kakondongan, Kecamatan Tallunglipu, setelah dikejar sekelompok pemuda.
Hingga kini, keberadaan maupun kepastian nasibnya belum pernah terungkap.
Mandeknya penanganan perkara memunculkan tuntutan agar seluruh pemangku kepentingan tidak lagi bersikap pasif.
Selain kepolisian yang menangani penyelidikan, DPRD Kabupaten Toraja Utara juga didorong mengambil peran melalui fungsi pengawasan yang dimilikinya.
Ketua Pemuda Toraja Indonesia (PTI) Provinsi Papua Barat, Patrix Barumbun Tandirerung, menilai DPRD perlu membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk mengevaluasi penanganan kasus yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun tanpa kepastian.
Menurut Patrix, pembentukan Pansus dapat menjadi instrumen politik untuk memastikan proses penegakan hukum berjalan secara transparan dan akuntabel.
Ia menilai perkara tersebut tidak boleh dibiarkan mengendap tanpa kejelasan, terlebih keluarga korban hingga kini masih menanti kepastian.
Selain itu, ia meminta Kepolisian memberikan informasi berkala mengenai perkembangan penyelidikan.
Keterbukaan informasi, menurutnya, penting agar masyarakat mengetahui sejauh mana upaya yang telah dilakukan penyidik sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap proses hukum.
“Saya belum melihat adanya kesungguhan dari stakeholder atau dinas terkait di daerah untuk mendorong pengungkapan yang berkeadilan. Beberapa peristiwa terakhir membuat saya khawatir generasi emas Tongkonan saat ini sudah hidup dalam budaya dan siklus kekerasan. Ini perlu menjadi perhatian semua pihak,” ujar Patrix.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada penjelasan terbaru dari aparat kepolisian mengenai perkembangan penyelidikan kasus hilangnya Stoner.
Di sisi lain, keluarga korban masih menunggu kepastian atas nasib anak mereka yang telah menghilang selama lebih dari tiga tahun.
Editor : Redaksi














