Torajachannel.com, Makale—Kain tenun Tana Toraja tak lagi hanya menjadi warisan yang dititipkan dari generasi ke generasi. Di tengah perubahan zaman, anak-anak muda mulai mengambil peran untuk menjaga tradisi itu tetap hidup.

Fenomena tersebut terlihat dalam gelaran Pesona Tenun dan Budaya Tana Toraja 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tana Toraja di Pasar Seni, Kecamatan Makale, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Lebih dari sekadar pergelaran budaya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus mendorong keberlanjutan kain tenun sebagai salah satu kekayaan budaya Toraja.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi masyarakat Toraja, tenun bukan sekadar kain untuk dikenakan. Motif, warna, hingga proses pembuatannya mengandung filosofi yang berkaitan erat dengan nilai-nilai kehidupan dan identitas budaya masyarakat Toraja.
Salah satu rangkaian utama kegiatan itu adalah lomba menenun. Lebih dari 100 peserta dari 19 kecamatan di Tana Toraja ambil bagian. Menariknya, peserta tidak hanya didominasi penenun berusia lanjut.
Di antara deretan perempuan yang tekun memainkan alat tenun, terlihat pula sejumlah penenun muda. Kehadiran mereka menjadi gambaran bahwa keterampilan yang selama ini identik dengan generasi tua mulai menemukan tempat di kalangan anak muda.
Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg, mengatakan kegiatan Pesona Tenun dan Budaya kembali digelar setelah sukses dilaksanakan pada 2025. Menurut dia, kegiatan tersebut tidak semata-mata ditujukan sebagai seremoni atau promosi kebudayaan.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu membangkitkan minat generasi muda untuk menekuni usaha tenun sekaligus menjadikannya sebagai sumber penghasilan.
“Kita bisa lihat dan saksikan saat ini, sudah banyak anak-anak muda yang ikut dalam lomba menenun. Ini adalah salah satu efek positif dari kegiatan yang kita laksanakan,” kata Zadrak.
Menurut Zadrak, perkembangan industri tenun di Tana Toraja juga menunjukkan peluang ekonomi yang cukup besar. Ia mengatakan permintaan kain tenun dari para penenun lokal meningkat setelah kegiatan serupa digelar pada tahun sebelumnya.
Karena itu, pemerintah daerah berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni keterampilan tersebut.
“Kita berharap ke depan semakin banyak anak muda yang memiliki minat menjadi penenun. Selain merawat warisan leluhur, keterampilan menenun juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena kain tenun Tana Toraja sudah dikenal secara nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Dari Simbuang, Menenun Sejak SMP
Cerita tentang regenerasi penenun juga datang dari Agustina, 23 tahun, penenun muda asal Kecamatan Simbuang. Ia menjadi salah satu peserta yang ikut berkompetisi dalam lomba menenun.
Agustina mulai mengenal alat tenun sejak duduk di bangku SMP. Keterampilan itu diperolehnya dari orang tuanya yang lebih dulu menekuni tradisi menenun.
Bagi Agustina, menenun bukan hanya cara mempertahankan warisan leluhur. Keterampilan tersebut juga menjadi salah satu sumber mata pencaharian yang menjanjikan.
Selama menekuni profesi itu, ia telah menghasilkan berbagai motif kain tenun yang dipasarkan di Tana Toraja maupun ke luar daerah. Bahkan, produknya telah dipesan pembeli dari Jakarta.
“Saya sudah dua kali hadir di kegiatan ini. Sangat bagus karena lebih banyak yang tertarik menenun. Hasilnya dijual di Galeri Dekranasda Tana Toraja, biasa juga dijual online. Yang pesan ada dari Jakarta,” kata Agustina kepada REPLIKNEWS sembari tetap menenun.
Ia berharap kegiatan Pesona Tenun dan Budaya dapat terus digelar setiap tahun. Menurut dia, kegiatan semacam ini penting bagi penenun, terutama mereka yang berasal dari kampung, untuk memperkenalkan hasil karya sekaligus meningkatkan pendapatan.
“Harapannya tahun depan bisa diadakan lagi kegiatan seperti ini supaya orang-orang di kampung juga bisa lebih meningkatkan penghasilannya,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, munculnya penenun muda seperti Agustina menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus berhadapan dengan zaman. Justru, ketika diberi ruang untuk berkembang dan memiliki nilai ekonomi, warisan leluhur dapat menemukan generasi baru yang bersedia menjaganya tetap hidup.
Penulis : Adi
Editor : Redaksi














