Torajachannel.com, Makale–Sebanyak 50 pengrajin tenun di Kabupaten Tana Toraja mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Pewarnaan dan Pemanfaatan Pewarna Alami yang digelar Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Pasar Seni Makale, Senin (6/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan rangkaian kunjungan kerja Ketua Umum TP-PKK Pusat, Tri Suswati Tito Karnavian, dan Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri, Ir. Restuardy Daud ke Bumi Lakipadada.
Selain memperkenalkan teknik pewarnaan alami, para peserta juga dibekali pengetahuan tentang pengelolaan usaha, mulai dari perhitungan harga pokok produksi (HPP), strategi pemasaran, hingga penguatan identitas produk melalui branding dan storytelling.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Peserta tidak hanya belajar membuat dan memanfaatkan pewarna alami, tetapi juga bagaimana menghitung harga produk secara ekonomis, sehingga mereka dapat menentukan nilai jual yang tepat,” kata Restuardy Daud.
Ia menjelaskan, penguatan pemasaran dan branding menjadi bagian penting dalam pengembangan industri kerajinan. Menurutnya, setiap produk tenun memiliki nilai sejarah dan filosofi yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
“Biasanya sebuah produk memiliki storytelling. Jadi setiap produk perlu diberikan informasi tambahan mengenai sejarah dan maknanya, sehingga konsumen tertarik untuk membeli,” ujarnya.
Restuardy menuturkan, Indonesia memiliki kekayaan motif, corak, dan bentuk kerajinan yang sangat beragam sesuai karakteristik masing-masing daerah.
Karena itu, Dekranas hadir untuk memfasilitasi pengembangan produk lokal, termasuk membuka akses pemasaran hingga ke pasar internasional.
Namun, ia mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan produksi. Menurutnya, tidak sedikit pengrajin yang kesulitan memenuhi permintaan pasar secara konsisten, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
“Kami berharap produk lokal ini bisa berkelanjutan. Kadang-kadang ketika ada pesanan besar, pengrajin belum mampu menyiapkan produk secara kontinu sesuai kualitas dan kuantitas yang dibutuhkan. Karena itu, kemitraan dengan Dekranasda di daerah harus terus dibangun secara bertahap,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Restuardy mengungkapkan bahwa wastra tenun Toraja dipilih sebagai salah satu fokus pembinaan karena memiliki kekuatan budaya yang masih terjaga dan berpotensi besar untuk dikembangkan.
“Kain tenun Toraja memiliki corak dan nilai budaya yang masih dipertahankan. Tinggal bagaimana diberikan sentuhan dan teknik yang lebih baik agar dapat digunakan secara lebih luas sesuai kebutuhan fashion dan pasar,” katanya.
Menurutnya, pengembangan tenun Toraja tidak hanya memberikan keuntungan bagi para pengrajin, tetapi juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah secara umum.
Ia menambahkan, potensi tenun Toraja semakin besar karena ditopang oleh sektor pariwisata yang telah dikenal luas.
“Toraja adalah daerah wisata. Ini menjadi potensi besar apabila tenun menjadi bagian dari ekosistem pariwisata, sehingga yang berkembang bukan hanya kerajinannya, tetapi juga sektor wisata yang saling terhubung,” pungkas Restuardy.
Penulis : Sandi Nayoan
Editor : Redaksi














